Beranda > Catatan kotbah > Catatan berkotbah di Tunas Remaja

Catatan berkotbah di Tunas Remaja

Catatan kotbah kepada tunas remaja GMI

Hari Minggu 10 Juli 2010 saya memberikan kotbah kepada anak-anak Tunas Remaja Gereja Methodist Indonesia, Immanuel, Bandar Lampung.  Ini adalah undangan kotbah yang ketiga kali selama tahun 2010 untuk melayani di kebaktian Tunas Remaja GMI.

Catatan yang dapat saya tulis setelah mengamati anak-anak tunas remaja  gereja yang notabene adalah generasi penerus gereja  sbb:

Kebaktian tunas remaja bertempat di ruang musik sekolah PKMI yang kedap suara.  Kebaktian selalu diiringi band, sebuah drum, 2 gitar elektrik dan organ.  Juga ada song leader 2-3 orang.  Sebagai orang tua saya dapat memahami jiwa anak-anak muda yang mempunyai talenta music dan menyalurkannya melewati pelayanan dalam bidang musik. Apalagi sekarang ini banyak gereja-gereja tetangga yang menjalankan ibadah remaja dengan musik band.  Jadi adanya band dalam kebaktian tunas remaja adalah selain mengikuti trend masa kini anak muda juga menyalurkan bakat talenta music untuk memuliakan nama-Nya.

Bisa jadi saya ini sebagai orangtua yang jadul alias konservatif dalam soal music.  Akan tetapi beberapa catatan yang dapat saya ungkapkan adalah sebagai berikut:

  1. Peranan music terasa sangat dominan dalam kebaktian tersebut.  Ruangan hanya seluas lebih kurang 5 x 5 m2 namun suara music bagi saya cukup memekakkan telinga.  Sehingga suara band dan song leader tersebut jauh lebih keras daripada suara-suara anak-anak remaja yang sedang bernyanyi.  Jadinya saya tidak dapat mendengar sama sekali suara jemaat bernyanyi.  Setahu saya song leader adalah bertugas membawa jemaat untuk bernyayi bersama-sama, bukan agar suaranya lebih keras terdengar.  Namun yang terjadi disini adalah 2 anak song leader jauh lebih keras suaranya daripada suara  anak-anak remaja yang hadir sekitar 25 orang. Akibatnya suara jemaat tenggelam oleh suara band dan suara song leader.     Jadi pada saat itu saya tidak dapat mendengar anal-anak remaja bernyayi.
  2. Musik akan menjadi indah apabila harmonis dengan sekitarnya.  Saya relatif tidak merasakan  bahwa kehadiran band dalam ibadah tunas remaja tersebut membawa keharmonisan dalam beribadah.  Karena musik terlampau dominan dalam ibadah tersebut.  Padahal dalam ibadah yang harmonis tidak seharusnya ada suatu unsure yang dominan.
  3. Walaupun demikian, saya melihat sebagian anak-anak remaja cukup menikmati acara ibadah dengan musik band tersebut, tapi  sebagian lagi tampak bengong-bengong aja.

Itu tentang catatan musik.. Catatan lain adalah tentang suasana anak-anak ketika berkotbah.  Karena saya sudah  berkotbah beberapa kali dalam kebaktian tunas remaja, maka saya perhatikan beberapa pola sebagai berikut:

Anak-anak ban pemain musik selama saya berkotbah adalah kelompok anak yang tidak serius memperhatikan dan mendengarkan kotbah.  Mereka cenderung ngobrol sendiri diantara mereka.  Tidak mempedulikan isi kotbah saya.  Mereka duduk selalu bergerombol, sehingga selama kotbah mereka lebih suka berinteraksi dengan sesame teman band.  Rasa in-group mereka cukup kuat.

Namun, fakta bahwa anak-anak bercanda ketika kotbah juga saya amati pada anak-anak tunas remaja lainnya.  Ana-anak tunas remaja gereja kita cenderung ngobrol sendiri dengan teman mereka selama saya berkotbah.  Ngobrol kanan ngobrol kiri tidak peduli dengan kotbah saya.  Apakah hal ini juga terjadi pada pengkotbah yang lain, saya kurang tahu.  Bisa jadi, isi kotbah saya tidak menarik bagi mereka,  Atau mereka pilih-pilih siapa yang mereka suka untuk berkotbah.

Saya cukup prihatin dengan sikap anak2 tunas remaja yang bersikap kurang sopan dengan pengkotbah dalam kebaktian.  Agaknya mereka kurang belajar sopan santun kepada hamba Tuhan selama ibadah.  Seharusnya anak-anak remaja belajar sopan santun selama ibadah dan menghormati hamba pengkotbah.  Jujur saja, selama 3 kali saya berkotbah di tunas remaja, sikap-sikap sederhana seperti  itu belum ada saya lihat dalam diri anak-anak remaja kita.  Ini adalah tantangan bagi kita para orang tua untuk member perhatian pada dunia remaja.   Juga, tantangan bagi saya agar kalau diundang berkotbah di tunas remaja mereka mau mendengarkan.

Bandar Lampung, 10 Juli 2010

Kategori:Catatan kotbah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: