Merdeka, Syalom, Salam persahabatan

17 November 2011 2 komentar

Salam kenal sahabat kekasih.

“Effortless change can happen only by three items, those are seed, time, and harvest.  So plant the seed, plant the seed, plant the seed, and wait… and amazingly you will harvest the change.” (By Darwin Pangaribuan, 2015)

Blog ini saya tulis agar kita dapat saling berbagi dan saling mengenal satu sama lain. Blog ini adalah catatan harian aktivitas saya dalam hal menulis (writing), melatih (training) dan mengajar (speaking).

Blog pribad ini khusus untuk kalangan sendiri karena berfokus pada peristiwa kejadian pada masa lalu (past) = creation science, masa sekarang (present) = leadership, dan masa depan (future) = prophecy

Saran dan komentar diemail ke darwinpangaribuan@yahoo.com

Horas, terimakasih,  salam dan doa

Iklan

Non-Muslim bukan Kafir

Sumber tulisan:  https://www.nu.or.id/post/read/103224/tentang-non-muslim-bukan-kafir

 

MUNAS-KONBES NU 2019

Tentang Non-Muslim bukan Kafir

Sabtu, 02 Maret 2019 10:00Opini

Bagikan   

Tentang Non-Muslim bukan Kafir
Oleh M Kholid Syeirazi
Hasil Bahtsul Masâil Maudlū’iyah dalam Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar Patroman, Jawa Barat, memicu polemik. Dari sekian isu penting, yang paling menyengat publik adalah hasil bahasan di tema “Negara, Kewarganegaraan, Hukum Negara, dan Perdamaian.”
Bagi saya, ini bukan tema baru, tetapi kelanjutan dari visi kebangsaan NU yang telah ditanamkan sejak tahun 1936, 1945, 1953, 1984, dan 1987. Tahun 1936, NU menyebut kawasan Nusantara sebagai Dârus Salâm.
Tahun 1945, NU setuju NKRI berdasarkan Pancasila dan kemudian menggalang Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI dari pendudukan kolonial. Tahun 1953, NU mengakui keabsahan kepemimpinan Soekarno secara fikih dan menggelarinya dengan julukan Waliyyul Amr ad-Dlarūri bis Syaukah.
Tahun 1983-84, NU menegaskan NKRI final bagi perjuangan umat Islam. Tahun 1987, NU memperkenalkan trilogi ukhuwwah: Ukhuwwah Islâmiyah, Ukhuwwah Wathaniyah, Ukhuwwah Basyariyah/Insâniyah.
Produk-produk penting ini perlu saya ingatkan, terutama kepada orang NU, yang mulai gemar menilai NU dengan kacamata non-NU. Saya mengikuti sejumlah grup WA yang isinya orang NU tetapi menghujat produk Munas/Konbes NU 2019 terkait isu ini.
Saya tidak terlibat di Komisi Bahtsul Masa’il, tetapi di Komisi Rekomendasi sebagai sekretaris. Namun, saya mengikuti nuansa perdebatan tentang materi penting itu di luar forum. Bahtsul Masâ’il di lingkungan NU, terlebih jika isunya penting, selalu melibatkan perdebatan panas, sampai-sampai pimpinan PBNU (Rais ‘Am, Ketua Umum, Katib ‘Am, dan Sekjen) turun gelanggang.
Kenapa ini terjadi? Karena tradisi Bahtsul Masâ’il NU adalah adu ta’bir (ibârât/kutipan/rujukan) teks kitab. Dan begitu melihat teks kitab terkait status non-Muslim, yang tersedia adalah istilah Kâfir Harby, Kâfir Dzimmy, Kâfir Mu’âhad, dan Kâfir Musta’min.
Kâfir Harby merujuk ke orang kafir yang agresif karena itu harus diperangi. Kâfir Dzimmy merujuk ke orang kafir yang tinggal di negeri Islam yang tunduk dan dilindungi dengan membayar jizyah (pajak). Kâfir Mu’âhad merujuk ke orang kafir yang dilindungi karena mengikat perjanjian. Kâfir Musta’min merujuk ke orang kafir yang datang ke negeri Islam yang minta perlindungan dan dilindungi.
Kategori ini adalah kategori sosiologis-politis, bukan teologis. Orang yang mengingkari risalah Nabi Muhammad SAW disebut kafir secara teologis. Tetapi, fiqih jihad membagi mereka berdasarkan kategori sikap sosial dan politis. Semua haram darahnya, kecuali kâfir harby.
Kategori sosiologis-politis ini, menurut saya, bias Negara Islam atau Khilâfah Islâmiyah. Memang, teks kitab yang dikaji dan dirujuk di lingkungan NU, termasuk kelompok Islam lain, rata-rata disusun dalam konfigurasi politik dawlah Islâmiyah.
Dalam konteks itu, orang Islam adalah pemain utama yang menguasai negara dan pemerintahan. Status orang kafir tergantung sikapnya. Kalau dia agresif, dia harus dibunuh. Kalau tunduk dan bayar pajak, dilindungi dan tidak boleh diganggu. Kalau minta perlindungan, harus dilindungi. Kalau mengikat perjanjian, wajib dilindungi selama tidak melanggar perjanjian.
Pertanyaannya, apakah kategorisasi ini tetap relevan dan bisa digunakan untuk menilai NKRI yang sejak semula telah ditetapkan sebagai bukan Negara Islam? Musyâwirīn dalam forum Bahtsul Masâ’il sebagian masih terikat dengan teks harfiah kitab, karena itu tetap mengenakan idiom kafir untuk menghukumi status non-Muslim di Indonesia.
Perdebatan keras itu berujung kepada keluarnya idiom baru: Musâlimin. Istilah ini merujuk ke seluruh pihak yang terikat komitmen untuk saling menjaga dan melindungi. Konsepnya sudah jauh lebih egaliter. Semua pihak berkedudukan sederajat, punya hak dan kewajiban yang sama untuk saling menjaga dan melindungi.
Ketika konsep ini diplenokan, Ketua Umum PBNU mengusulkan penggantian istilah Muwâthinin yaitu warga negara. Muwâthinin derivat dari kata wathan yang artinya bangsa karena NKRI adalah bentuk dari Mu’âhadah Wathaniyah (konsensus kebangsaan), seluruh pihak, tanpa diskriminasi, adalah warga negara yang berkedudukan sederajat. Secara normatif, tidak ada mayoritas dan minoritas. Semua  berlaku prinisp keseteraan dan persamaan di muka hukum (equality before the law).
Keputusan ini sama sekali tidak merevisi konsep keimanan. Mu’min dan kafir itu tetap ada di ranah privat teologis masing-masing agama. Bagi orang Islam, non-Muslim itu kafir, begitu juga sebaliknya. Tetapi, idiom ini tidak berlaku di ranah publik (mu’âmalah wathaniyah). Semua adalah warga negara yang berkedudukan sederajat.
Ini persis seperti yang dilakukan Nabi ketika mendirikan Negara Madinah. Kaum Muslim dan Yahudi dengan beragam suku dan agamanya, di dalam naskah Piagam Madinah, semua disebut sebagai Ummatun Wâhidah.
Definisi “umat” dalam Piagam Madinah bahkan jauh lebih inklusif daripada penggunaan sekarang, yang secara eksklusif hanya merujuk kepada umat Islam. Umat dalam Piagam Madinah adalah warga negara yang berkedudukan sederajat. Tidak ada diskriminasi dan persekusi berbasis SARA. Prosekusi diberlakukan kepada seluruh pelanggar hukum, tidak peduli suku dan agamanya.
Adakah yang salah dengan keputusan ini? Sama sekali tidak! Ada pihak, yang dengan keputusan ini, ingin menambahkan bukti tentang penyimpangan NU di bawah kepimpinan KH Said Aqil Siroj. NU, kata mereka, semakin menyimpang dari jalur para pendiri. Penilaian ini salah, totally wrong!
Tahun 1936, Hadlratussyekh KH M Hasyim Asy’ari telah memimpin Muktamar di Banjarmasin yang memutuskan Nusantara sebagai kawasan damai (Dârus Salâm). Tidak berlaku hukum perang sejauh penguasa kolonial masih membolehkan umat Islam menjalankan syariat Islam, meskipun terbatas.
Tahun 1945, Hadlratussyekh setuju Indonesia tidak menjadi Negara Islam, tetapi NKRI berdasarkan Pancasila. Di tahun yang sama, ketika kompeni berniat menduduki lagi negeri yang sudah diproklamirkan merdeka, Hadlratussyekh mencanangkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila itu.
Tahun 1983-84, dalam kontinuum semangat yang sama, NU memutuskan NKRI final. Apa konsekuensi dari resepsi finalitas NKRI? Secara normatif, seluruh warga negara dalam NKRI berkedudukan sederajat. Tidak ada diskriminasi SARA.
Orang Islam, meski mayoritas dari segi jumlah, tidak lantas kebal hukum atau ingin menjadi pemain utama. Umat Islam wajib mematuhi hukum yang berlaku sejauh tidak melanggar syariat. Tidak ada mukmin dan kafir di ranah publik NKRI. Yang ada adalah warga negara Indonesia, yang berbhinneka tunggal ika.
Keputusan Munas/Konbes NU, sekali lagi, adalah menghidupkan kembali semangat Piagam Madinah dan kesepakatan para founding fathers yang mendirikan Indonesia bukan sebagai Negara Islam, tetapi NKRI berdasarkan Pancasila. NU sejak 1984, telah menyatakan NKRI final. Konsekuensinya, tidak lagi relevan mengungkap idiom-idiom privat agama ke ranah publik.
Non-Muslim Indonesia tidak layak dihukumi sebagai kâfir dzimmy, kâfir mu’âhad, kâfir musta’min apalagi kâfir harby yang harus dimusuhi. Nahnu al-Muwâthinūn: kita semua adalah warga negara yang berkedudukan sederajat. Tidak ada persekusi dan prosekusi kecuali kepada para pelanggar hukum, apa pun suku dan agamanya.
Penulis adalah Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)

 

Kejadian 1:1 – 6:8

_*Telaah Kitab Kejadian dari Perspektif Mesianik – Akar Ibrani*_
*Parasha B’reshit – pada mulanya*
* Kejadian 1:1 – 6:8*
Moshe membuka Torah dengan tulisan Ibrani, _B’reshit bara Elohim et hashamayim veet haaretz_ (Kejadian 1:1). Pada mulanya Elohim menjadikan langit dan bumi. Pertanyaannya, mengapa Torah tidak dibuka dengan huruf pertama dalam abjad Ibrani yaitu Alef?
Salah satu aspek yang dapat jadi alasan, huruf alef juga membentuk kata Arirah (berarti kutuk). Padahal Elohim tidak ingin ciptaannya diasosiasikan dengan kutuk dalam aspek apapun.
Lalu, mengapa memakai huruf kedua, Bet ? Karena huruf Bet merujuk pada B’rakha (berarti berkat). Melalui penciptaan Elohim ingin memberkati manusia dan alam semesta. Karenanya ia memilih Bet dari B’reshit.
Huruf Bet juga memiliki nilai gematria 2 ( alef = 1; gimel = 3, dst ). Reshit berarti permulaan. Jadi B’ereshit juga bermakna 2 permulaan, permulaan untuk Torah (Kejadian adalah kitab pertama Torah) dan permulaan untuk Israel.
Mengapa Israel sudah dirujuk dari ayat pembukaan ini padahal manusia belum diciptakan? Karena dalam Kejadian 1:1 ini, Elohim dinyatakan sebagai Pencipta bumi dan karenanya yang memiliki seluruh bumi. Sehingga ketika Elohim memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel (Ulangan 32:49), itu dilakukan karena sebagai Pencipta langit dan bumi, Elohim memiliki seluruh bumi dan berhak memberikannya kepada Israel.
Dua permulaan dalam parasha _B’ereshit_ juga terjadi dalam penciptaan di langit dan di bumi. Tuhan menciptakan Adam dari debu tanah menurut bayangan ( Ibr _tzelem_; pola, karakter, bentuk) dan keserupaan ( Ibr _demut_; kuasa pengertian dan intelek) Elohim (Kejadian 1:26).
Pertanyaannya, *_bagaimana Tuhan yang tanpa bentuk dan tanpa citra serta tak terbatas mempunyai manusia yang terbatas sebagai bayanganNya?_* Pertanyaan ini mendorong solusi teologis, Tuhan yang tak terbatas memakai interface ( perantara) untuk menciptakan Adam di bumi.
Gambaran prosesnya sebagai berikut. Sebelum penciptaan , yang ada hanyalah Terang Elohim yang Tak Terbatas. Terang Elohim yang tak terbatas itu kemudian dikontraksi, dimampatkan menjadi suatu pribadi yang disebut Adam Kadmon, yaitu Adam surgawi. Inilah bentuk reduksi yang disebut dalam Yudaisme sebagai tzimtzum ( bentuk reduksi, terbatas) karena berasal dari suatu kontraksi.
Berdasarkan pribadi Adam Kadmon yang bersifat rohani inilah, Adam pertama sebagai makhluk terbatas di bumi dibentuk sesuai bayangan dan keserupaan dari Adam rohani di surga. Di lingkungan Yahudi konsep Adam Kadmon dikaitkan dengan pengertian Kabbalah (berarti menerima) yang berasal dari R Shimon bar Yohai pada awal abad kedua.
Konsep Adam rohani dikenali juga dalam tulisan Rasul Shaul Paulus, seorang rabbi abad pertama, zaman Tannaim, lebih dulu dari R Shimon bar Yohai. Rav Shaul jelas merujuk Yeshua sebagai Adam rohani.
Kolose 1:15, Ia adalah gambar Elohim yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan
I Korintus 15:45-49, Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.
 Dari segi penampakan, Adam alamiah kita lihat lebih dulu, namun sesungguhnya Adam rohaniah telah ada lebih dulu, tetapi baru menampakkan diri kemudian, sehingga disebut Adam Kedua. Adam pertama dibentuk menurut Adam rohaniah yang tidak lain adalah Mesias yang telah ada sebelum Adam pertama dibentuk. Yang luar biasa, kita yang memakai rupa Adam alamiah, akan memakai rupa Adam surgawi, menjadi seperti Mesias Yeshua. Adam pertama jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Elohim ( Roma 3:23). Namun di dalam Adam yang akhir, sebagai roh yang menghidupkan, kemuliaan ( shekinah) Elohim dipulihkan dalam diri kita yang percaya kepadaNya.
Kemuliaan Elohim yang dipulihkan dalam diri kita, bukan hanya berurusan dengan kuasa rohani, tetapi juga terkait dengan tanggungjawab dalam perilaku dan sikap kita terhadap orang lain. Seorang yang shekinahnya telah dipulihkan Tuhan , tidak akan memandang rendah orang lain, bersikap menghina orang lain atau menyanjung diri sendiri. Seorang yang telah dipulihkan shekinahnya akan menghargai orang lain karena paham orang lain juga sudah dipulihkan seperti dirinya atau setidaknya manusia pada umumnya sekali pun kurang masih membawa sifat bayangan dan rupa Elohim ( kecuali orang yang kerasukan setan). Tanggungjawab kita adalah menghargai sesamamu manusia!
Bagaimana sikap Elohim terhadap persembahan? Persembahan mulai dari sikap hati. Kain memberi buah-buahan hasil tanahnya sembarang saja, asal memberi. Habel memilih yang sulung, terbaik dari kambing domba yang dapat diberikannya. Tuhan melihat hati, menerima persembahan Habil, bukan persembahan Kain. Dengan cara yang sama, persembahkan hidup kita yang terbaik kepada Tuhan, sekarang saat kita sehat menjadi persembahan yang hidup bagi kemuliaan NamaNya (Roma 12:1)
Habel hampir dipastikan mendengar kisah penebusan dari ayah ibunya, ketika mereka berdosa, Adonai menyembelih binatang dan memberikan kulitnya untuk menjadi pakaian mereka. Dosa selalu berakibat kematian. Seperti terlulis, Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Elohim ialah hidup yang kekal dalam Mesias Yeshua, Junjungan kita ( Roma 6:23).
_oleh Gmb Benyamin Obadyah,  Gereja Kehilat Mesianik Indonesia_

FOTO saya Sewaktu SD

Foto saya sewaktu SD

Genesis 18:1 – 22:24

_*Telaah Kitab Kejadian dari Perspektif Mesianik – Akar Ibrani*_

*Parasha – Vayera – dia menampakkan diri*
*Kejadian 18:1 – 22 : 24*

*UJIAN IMAN ABRAHAM*

Setelah semuanya itu Elohim mencoba (Ibr nissah) Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Inilah aku “(Kejadian 22:1). Kata nissah ( dari akar kata nassah) yang diterjemahkan ‘mencoba’ mempunyai arti ujian, percobaan, pembuktian dan cobaan. Semua produk yang diciptakan perlu diuji lebih dulu sebelum dipasarkan. Mobil, batere, bahan bangunan harus diuji dalulu kualitasnya sebelum dipasarkan. Demikian juga kualitas iman Abraham, perlu diuji dahulu sebelum dinyatakan sebagai “Bapak orang Beriman” dan Pemegang Perjanjian Berkat bagi bangsa-bangsa.
Istilah dicobai atau diuji bukanlah kata yang buruk. Pemazmur berkata, Selidiikilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku (Ibr nasseni); ketahuilah batinku dan hatiku (Mazmur 26:2). Ia justeru minta dicobai agar kualitas batinnya diketahui Tuhan. Konotasi negatif muncul bila pencoabaan itu dirancang oleh si jahat seperti yang tertulis dalam Injil. , Yeshua dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai ( Ibr nassehu; Gr peiraso) Iblis (Matius 4:1). Karena itu Yeshua berkata, Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam penco- baan (Ibr nisseion; Gr peirasmos). Tetapi sikap terhadap pencobaan bukan untuk ditakuti seperti yang ditulis oleh Yaakov, saudara Yeshua. Saudaraku, anggaplah sebagai suatu keba- hagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan ( Yakobus 1:2-3).
Jelas, ujian atau pencobaan dalam bahasa Ibrani (nassah) dan dalam bahasa Yunani ( Peirasmos) mempunyai makna yang netral, bukan negatif. Pencobaaan dari Tuhan adalah untuk meningkatkan kualitas iman melalui ketekunan. Adalah pencobaan dari si jahat yang negatif karena bertujuan menjatuhkan kita. Terhadap hal ini kita perlu berjaga-jaga. Namun kita salah bersikap bila menolak ujian yang berasal dari Tuhan karena itu berarti kita memilih iman kita tetap kerdil, tidak pernah menjadi dewasa!
Abraham diuji bukan untuk memperoleh Janji. Ia justeru diuji sesudah ia mendapat Perjanjian Janji dari El Shaddai. Ia diuji untuk menunjukkan bahwa kualitas imannya telah terbukti. Para rabbi memahami hal ini seperti yang tertulis, Penjunan tidak menguji bejana yang cacat, karena dengan sekali hentak saja bejana itu akan pecah berantakan. Apa yang diujinya? Hanya bejana-bejana yang baik, karena ia tidak akan menghancurkannya meskipun dengan hentakan berkali-kali. Demikian juga Yang Maha Kudus, diberkatilah Dia, menguji bukan orang yang jahat tetapi orang yang benar,seperti yang dikatakan,”Tuhan menguji yang benar” (Bereshit Rabbah 60:2).
Para chazal ( Chakhameinu Zikhram Liv’rakha; Para Bijaksana Israel) mengatakan Abraham dicobai 10 kali. Ujian apa yang dialami Abraham?
  • 1.Elohim memerintahkan dia menginggalkan negerinya, keluarga bahkan ayahnya sendiri untuk pergi ke tempat yang masih akan ditunjukkan Tuhan dan manjadi orang asing di tanah Kanaan (Kejadian 12:1). Apakah kita dapat mempercayakan diri dan masa depan kita kepada Elohim seperti Abraham? Apakah kehendakNya menjadi bagian dari pengambailan keputusan kita?
  • 2.Ketika ia sampai di tanah Perjanjian karena mengikuti petunjuk Tuhan, Kanaan malah mengalami bala kelaparan (Kejadian 12:10). Apakah kita percaya kesetiaan Tuhan saat harus mengalami keadaan yang tidak nyaman?
  • 3.Firaun raja Mesir mengingini Sarai menjadi isterinya. Ini resiko Abraham turun ke Mesir sebagai pengembara (Kejadian 12:15). Hubungan Abram dan Sarai menjadi terganggu.
  • 4. Abraham harus terlibat dalam peperangan melawan lima raja (Kejadian 14:14). Ini pun akibat ia harus berjalan sebagai orang asing di negeri orang. Ia diganggu dan harus mempertahankan diri.
  • 5.Ia menikahi Hagar, budak isterinya sesudah Sarai isterinya terbukti mandul (Kejadian 16:3). Dalam aturan zaman itu Abram tidak melakukan pelanggaran apa pun. Namun, menerima saran Sarai ini justeru membuat masalah besar di kemudian hari, sampai sekarang.
  • 6.Elohim memerintah Abram untuk disunat pada usia lanjut (Kejadian 17:24). Ia disunat pada usia 99 tahun. Ini agar ia menjadi teladan bagi keturunan jasmaninya ( Israel). Bangsa-bangsa selain Israel mengikuti teladan imannya dengan menjadi ciptaan baru ( sunat hati).
  • 7.Raja Gerar mengambil Sarai ke istananya (Kejadian 20:2). Lagi-lagi isterinya mau diambil orang. Kembali Tuhan membela Abram dengan melindungi Sarai secara supra natural.
  • 8. Tuhan menyuruh Abram mengusir Hagar dan anaknya pergi dari rumahnya (Kejadian 21:12). Ini memberatkan Abram karena Hagar telah memberi anak kepadanya.
  • 9.Tuhan mengatakan bahwa keturunannya akan menjadi orang asing di tanah asing (Kejadian 15:13). Sementara dalam Janji, keturunannya akan menjadi bangsa besar. Ia tetap setia.
  • 10. Adonai memerintahkannya mengorbankan Ishak sebagai korban bakaran (Kejadian 22:2).
Ia mendengar perintah itu diberikan secara khusus kepadanya (Kejadian 22:1). Abraham mentaatinya walau pun ia mengalami pergumulan yang hebat. Tindakan Abraham mau mengorbankan Ishak bila dipikir berlawanan dengan: (1) Perintah Tuhan kepada Noakh yang berlaku umum, jangan menumpahkan darah manusia (Kejadian 9:6). Orang yang merusak ‘bayangan’ Tuhan akan mengalami hal yang sama.; (2) Hubungan kasih ayah dan anak. Ini bukan hanya pembunuhan tetapi pembunuhan terburuk!; (3) Janji Tuhan kepada Sarah seakan disangkali oleh Abraham. Sarah sangat sedih (Kejadian 21:12); ( 4) Anggapan hanya dewa Molokh saja yang menghendaki korban anak manusia, ternyata Adonai pun demikian.
Dengan pergumulan yang demikian berat, Abraham tetap taat. Sekali pun ia tak paham. Ketaatan Abraham bukan ketaatan lugu dan dungu. Ibrani 11:19 menjelaskan bahwa Abraham berpikir Elohim berkuasa membangkitkan orang sekali pun sudah mati. Ini Iman akan kebangkitan! Saat pisau siap dihunjamkan ke dada anaknya, Ishak telah mati bagi Abraham. Tetapi ketika Malaikat TUHAN berseru, Ishak telah kembali hidup bagi Abraham! Dengan pemahaman ini, kisah pengikatan Iskak ini menjadi landasan iman bagi kebangkitan dari kematian yang kita percaya sampai sekarang.

 _Oleh Gmb Benyamin Obadyah,  Gereja Kehilat Mesianik Indonesia_

Sumber: Copas dari group WA GENESIS CHRIST COMMUNITY (GCC)

Anda mau bergabung dengan group WA GCC?

Silakan kontak japri

Lagu “Halleluyah” (Leonard N. Cohen) bukan lagu rohani

COPAS from WA group Written by Kurnia Arifin

MEMBONGKAR KEDOK ROH IZEBEL DALAM SEBUAH LAGU “HALLELUJAH”
Saya melihat sebuah lagu berjudul “Hallelujah” yang dinyanyikan Bon Jovi sedang naik daun. Sekalipun termasuk lagu lama, tapi baru sekarang mulai berkiprah dan dinyanyikan oleh artis-artis terkenal bahkan hingga dinyanyikan dalam moment-moment agamawi.
Saya sendiri tidak menyimak kata-katanya, hanya karena saya melihat banyak yang menshare dan memang enak untuk didengar, saya pun ikut menshare.
Tidak berapa lama seorang kawan memberitahu saya bahwa itu merupakan lagu perzinahan antara Daud dan Batsyeba. Saya bingung ketika mendapat laporan itu. Jadi saya langsung menelusuri siapa penyanyi, pencipta dan terkhususnya lirik dari lagu tsb.
” Hallelujah “
Now I’ve heard there was a secret chord
That David played, and it pleased the Lord
But you don’t really care for music, do you?
It goes like this
The fourth, the fifth
The minor fall, the major lift
The baffled king composing Hallelujah
Hallelujah
Hallelujah
Hallelujah
Hallelujah
Your faith was strong but you needed proof
You saw her bathing on the roof
Her beauty and the moonlight overthrew you
She tied you to a kitchen chair
She broke your throne, and she cut your hair
And from your lips she drew the Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
You say I took the name in vain
I don’t even know the name
But if I did, well really, what’s it to you?
There’s a blaze of light
In every word
It doesn’t matter which you heard
The holy or the broken Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
I did my best, it wasn’t much
I couldn’t feel, so I tried to touch
I’ve told the truth, I didn’t come to fool you
And even though it all went wrong
I’ll stand before the Lord of Song
With nothing on my tongue but Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
Waktu saya membaca dan mempelajari lirik lagu itu, saya menjadi terkejut dan bingung, bagaimana mungkin lagu tsb bisa dijadikan lagu rohani…?
Apa hanya karena ada kata-kata “Hallelujah, Hallelujah..?”
Isi lagu ini ternyata hanya berisi hubungan percintaan antara manusia dengan manusia, dan tidak ada sama sekali unsur menganggungkan/memuliakan nama Tuhan.
Sedangkan salah satu tolok ukur PUJIAN PENYEMBAHAN YANG MURNI UNTUK TUHAN, HANYA AKAN BERISI HUBUNGAN MANUSIA DENGAN KRISTUS, dan tidak dengan lainnya!
Jika isi “pujian” hanya mengutarakan hubungan percintaan manusia dengan manusia, maka apa bedanya dengan lagu-lagu duniawi..?
Dan hal ini yang saya dapatkan dalam lagu “Hallelujah” ini.
Istilah “Hallelujah” hanya sebatas KAMUFLASE/penyamaran, dijadikan sebuah kedok agamawi, tapi di dalamnya TIDAK MENGANDUNG UNSUR KEROHANIAN SAMA SEKALI.
Saya menjadi heran, bagaimana mungkin lagu model begini bisa begitu mendunia dan masuk kategori “rohani” ..?
Apa yang membuat banyak orang yang bisa mengerti liriknya tapi seakan DIBUTAKAN hanya karena ada pernyataan “Hallelujah..?”
Saya rasa tidak semudah itu. Pasti ada yang menggerakkannya di alam roh, yang MEMBUTAKAN MATA HATI banyak orang sehingga tidak mengerti dan tidak dapat melihat roh macam apa yang ada di dalam lagu ini.
Saya mendapat hikmat, ada roh izebel, roh perzinahan yang menggerakkan dan memberi ilham kepada si pembuat lagu dan membuat lagu ini mendunia untuk menyesatkan sebanyak-banyaknya orang, termasuk domba-domba Tuhan jika itu memungkinkan. Dan saya katakan, memang cukup berhasil strategi si iblis untuk menyesatkan banyak anak-anak Tuhan melalui lagu ini.
Mungkin bagi orang-orang yang buta rohani dan tidak sensitif di alam roh akan menganggap saya sebagai seorang fanatik rohani dan berlebihan. Tapi saya tidak peduli apa anggapan orang-orang, saya hanya mengatakan kebenaran di atas kebenaran, ya diatas ya, dan tidak di atas tidak..!
Saya langsung mengontak anggota team DOA di Bandung untuk melihat di alam roh seperti apa kondisi/wujud dari lagu ini sebenarnya. Karena saya curiga ada roh Izebel di dalamnya. Dan memang setelah dilihat di alam roh, lagu itu hanya berwujud KEGELAPAN. Tidak ada terang Allah di dalamnya.
Bagaimana mungkin lagu kegelapan bisa menghantarkan roh seseorang masuk ke dalam hadirat Alla..?
Malah justru sebaliknya. Setelah saya mengerti arti lirik lagu ini, justru roh saya merasa jijik dan muak, tebersit dalam pikiran saya pada waktu itu, orang yang mencipta lagu ini pastilah bukan seorang penyembah Tuhan.
Jadi, tak berhenti di situ, pagi ini saya mencoba menelusuri lagu ini, siapa yang menciptakanya?
Ternyata orang itu bernama :
” Leonard N. Cohen”.
Dan setelah saya mencari biografinya, ini beberapa hal penting yang saya dapat yang perlu digaris bawahi:
Leonard Norman Cohen, CC (lahir di Montreal, Quebec, Kanada, 21 September 1934; umur 81 tahun) adalah seorang penyair, novelis, dan penyanyi-pengarang lagu Kanada.
KARIER MUSIKNYA PADA UMUMNYA DIBAYANG-BAYANGI OLEH KARYANYA SEBELUMNYA SEBAGAI SEORANG PENYAIR DAN NOVELIS, meskipun ia masih SECARA SPORADIS TETAP MENERBITKAN PUISINYA SETELAH IA BERHASIL MENEMBUS INDUSTRI MUSIK
Lagu-lagu Cohen seringkali berat secara emosi dan liriknya pun kompleks yang disebabkan oleh permainan kata puisi yang metaforis daripada aturan-aturan penulisan lagu yang lazim. Karyanya seringkali menjelajahi tema-tema AGAMA, KETERASINGAN, SEKS, dan HUBUNGAN ANTAR PRIBADI YANG RUWET.
Pada 2001, setelah lima tahun MENGASINGKAN DIRI SEBAGAI SEORANG BHIKKU BUDDHIS ZEN di Pusat Zen Mount Baldy, Cohen kembali ke musik dengan Ten New Songs, yang menampilkan pengaruh yang mendalam dari produsen dan ko-komponisnya Sharon Robinson. Dengan album ini, Cohen membuang cara pandang yang relatif ekstrovert, terlibat dan bahkan optimistik dari The Future (satu-satunya lagu yang politis dalam “The Land of Plenty” meninggalkan perintah yang keras untuk doa yang penuh harapan namun tanpa daya) untuk meratap dan mencoba menerima berbagai kehilangan yang dialaminya secara pribadi yaitu ” mendekatnya maut dan hilangnya cinta, hal yang romantis, dan bahkan yang ilahi”.
Pada 1994, setelah sebuah tur untuk mempromosikan The Future, Cohen melakukan retret ke Pusat Zen Gunung Baldy dekat Los Angeles, dan memulai masa pengasingan yang kemudian berlangsung selama lima tahun di pusat itu. Pada 1996, COHEN DITAHBISKAN SEBAGAI SEORANG BIARAWAN BUDDHIS ZEN RINZAI dan mengambil nama DHARMA JIKAN, yang berarti ‘dia yang membungkam’. Ia meninggalkan Gunung Baldy pada 1999
Beberapa puisi:
“Kaukatakan aku menyia-nyiakan nama itu. Aku bahkan tak kenal namanya. Namun bila benar kulakukan, yah, apa artinya bagimu?  Ada cahaya kilat dalam setiap kata; tak masalah mana yang kaudengar: yang sui atau haleluyah yang hancur.” – dari “Hallelujah” (1984)
“Dan kadang-kadang ketika malam datang merayap/Yang malang dan yang rendah hati/ Kita menyatukan hati dan pergi / Sedalam ribuan ciuman.” — dari “A Thousand Kisses Deep” (2004)
“Yah, kita minum dan menari/tapi tak ada yang benar-benar terjadi/dan tempat itu mati, layaknya Surga pada malam Minggu.” – dari “The Future” 1992
“Hanya ketika engkau pergi kulihat bokongmu yang sempurna. Maafkan aku karena aku tidak jatuh cinta pada wajahmu atau percakapanmu.”—dari The Energy of Slaves (1972)
“Aku telah sering berdoa untukmu begini
Biarkan aku memilikinya” – dari Ugly in My Own Eyes The Energy of Slaves (1972)
” dan engkau menciumku
meskipun aku agak malu-malu
aku takkan pernah menjadi kekasihmu” – dari lagu The Spice-Box of Earth (1961)
Tepat seperti yang saya prediksi, bahwa pencipta lagu “rohani” ini :
” BUKAN SEORANG PENYEMBAH MURNI.”
Dia hanya seorang PENYAIR YANG TIDAK JELAS KEPERCAYAANNYA KEPADA TUHAN dan PENCIPTA LAGU YANG PENUH NAFSU, bagaimana mungkin dia menciptakan lagu yang diilhamkan oleh Roh Allah sehingga memiliki urapan..? Tidak berbeda dengan isi hati dan otaknya, demikian juga yang tertuang di dalam lagu “Halelujah” ini.
Lagu yang hanya mengumbar nafsu dan kejatuhan seorang Daud dengan Batsyeba, maupun Simson dengan Delila. Sekali lagi saya tekankan..!
TIDAK ADA UNSUR KEROHANIANNYA SAMA SEKALI DI DALAMNYA! TIDAK ADA UNSUR MENGAGUNGKAN NAMA TUHAN SELAYAKNYA SEBUAH PUJIAN PENYEMBAHAN.
Tetapi lebih mirip sebuah kuburan yang dilabur putih, yang membutakan banyak orang dan melihatnya sebagai sesuatu yang bersifat rohani, padahal duniawi. Yang membutakan mata rohani banyak orang yang tanpa disadari oleh mereka menjadi orang-orang bodoh yang turut menyanyikannya. Padahal lagu tsb sama sekali tidak membawa roh dari orang yang menyanyikannya masuk ke dalam hadirat Allah.
 Lagu ini hanya bermain di level jiwa manusia, dan sama sekali tidak bergerak di tingkat roh.
Apa bedanya lagu ini dengan lagu-lagu romantis duniawi yang sanggup membuat orang-orang meneteskan air mata jika dinyanyikan sepenuh hati. Ya, hanya sebatas itu, tapi tidak sanggup menaikkan level roh seseorang masuk ke dalam ruang maha kudus Allah melalui penyembahan. Bahkan seandainya saja roh mereka peka, maka roh mereka justru akan merasa jijik dengan lirik dalam lagu tsb.
Tak heran, musik memiliki peranan penting bagi Iblis untuk memperkenalkan kerajaannya. Melalui tipuan yang halus dan menyenangkan, yang dibalur dengan unsur agamawi, padahal tidak ada unsur rohani sama sekali di dalamnya. Dan melalui kejadian ini pun saya mendapat pelajaran, untuk lebih selektif dengan apa yang saya dengar, dan untuk membedakan, apa itu berasal daripada Tuhan atau bukan, sebelum untuk mulai mensharekannya.
Wahyu 2:19-26,29
” AKU tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. AKU tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. TETAPI AKU MENCELA ENGKAU, KARENA ENGKAU MEMBIARKAN WANITA IZEBEL, YANG MENYEBUT DIRINYA NABIAH, MENGAJAR DAN MENYESATKAN HAMBA-HAMBA-KU SUPAYA BERBUAT ZINAH DAN MAKAN PERSEMBAHAN-PERSEMBAHAN BERHALA. Dan AKU telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. Lihatlah, AKU akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan KUlemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. Dan anak-anaknya akan KUmatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa AKULAH YANG MENGUJI BATIN DAN HATI ORANG, dan bahwa AKU akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya. Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, YANG TIDAK MENGIKUTI AJARAN ITU DAN YANG TIDAK MENYELIDIKI APA YANG MEREKA SEBUT SELUK-BELUK IBLIS, KEPADA KAMU AKU BERKATA: AKU TIDAK MAU MENANGGUNGKAN BEBAN LAIN KEPADAMU. TETAPI APA YANG ADA PADAMU, PEGANGLAH ITU SAMPAI AKU DATANG. Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKU sampai kesudahannya, kepadanya akan KUkaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa. SIAPA BERTELINGA, HENDAKLAH IA MENDENGARKAN APA YANG DIKATAKAN ROH KEPADA JEMAAT-JEMAAT”
Tuhan Yesus Memberkati
Oleh : Kurnia Arifin
Kategori:Musik dan Lagu

Selamat Hari Raya Natal

Sumber:  https://nasional.tempo.co/read/629528/ketua-pbnu-ucapan-selamat-natal-tak-haram/full&view=ok

Ketua PBNU: Ucapan ‘Selamat Natal’ Tak Haram

Oleh :

Tempo.co

Kamis, 18 Desember 2014 21:12 WIB

Ribuan umat Kristiani mengikuti Misa Natal di Gereja Bethany Surabaya, Senin (24/12). TEMPO/Sony Wignya Wibawa
Ribuan umat Kristiani mengikuti Misa Natal di Gereja Bethany Surabaya, Senin (24/12). TEMPO/Sony Wignya Wibawa

TEMPO.COJakarta – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Slamet Effendy Yusuf tak mempermasalahkan jika umat Islam mengucapkan “Selamat Natal” kepada warga Nasrani. “Kalau sebatas ucapan ‘Selamat Natal’ tidak apa-apa,” kata Slamet Effendy Yusuf kepada Tempo, Kamis, 18 Desember 2014.

Menurut Slamet, ucapan “Selamat Natal” merupakan wujud toleransi beragama. Ucapan itu dinilai tidak akan mempengaruhi akidah dan identitas seorang. “Sikap saling menghormati seperti itu tidak ada urusannya dengan pengakuan imani,” kata tokoh NU itu. (Baca: Natal, Gereja yang Pernah Diteror Bom Dijaga Ketat)

Walaupun demikian, kata Slamet, dalam ajaran Islam menyatakan sikap toleransi bukan berarti seorang muslim boleh menghadiri dan merayakan Natal. “Karena aktivitas yang bersifat ibadati jelas dilarang. Islam menegaskan prinsip beribadah menurut ajaran masing-masing,” kata Slamet. (Baca: Polisi Tangkap Demonstran Anti-Natal di Mojokerto)

Dalam perkembangannya, kata Slamet, sejumlah ulama memperkenalkan istilah tasyabbuh. Istilah ini merujuk aktivitas yang menyerupai pemeluk agama lain. Istilah itu muncul karena laku budaya seseorang merupakan bagian dari identitas agama tertentu. Sedangkan ucapan “Selamat Natal”, menurut Slamet, bukan bagian dari tasyabbuh. (Baca: Jokowi Natalan di Tiga Kota Papua)

Merry Christmas’s

Sumber:  https://nasional.tempo.co/read/629778/syafii-maarif-selamat-natal-seperti-selamat-pagi

Syafii Maarif: Selamat Natal seperti Selamat Pagi

Oleh :

Tempo.co

Jumat, 19 Desember 2014 21:00 WIB

Ahmad Syafii Maarif. Dok. TEMPO/Seto Wardhana
Ahmad Syafii Maarif. Dok. TEMPO/Seto Wardhana

TEMPO.COJakarta – Tokoh organisasi masyarakat Islam Muhammadiyah, Syafii Maarif, mengatakan ucapan “Selamat Natal” sama bobotnya dengan menuturkan “Apa Kabar”, “Selamat Pagi”, dan sapaan lainnya. Menurut Syafii, sapaan itu justru bisa menimbulkan perdamaian. (Soal Natal, FPI Anggap Presiden Jokowi Murtad)

“Damai di hati, damai di bumi,” kata Buya Syafii, sapaan akrabnya, saat dihubungi Tempo, Jumat, 19 Desember 2014. (Syafii Maarif Tiap Tahun Ucapkan Selamat Natal)

Buya Syafii juga menganggap lucu umat Islam yang melarang ucapan “Selamat Natal”. “Itu lucu,” katanya. Ia mempertanyakan apakah umat Islam yang seperti itu lebih baik ketimbang lainnya. (JAS: Larang Muslim Rayakan Natal Bukan Kejahatan)

Sebelumnya, Front Pembela Islam mengharamkan ajaran yang memperbolehkan umat Islam memberikan ucapan “Selamat Natal”. Kalau melakukan, kata dia, berarti mereka sudah murtad. “Tak terkecuali bagi siapa pun, termasuk Presiden Jokowi,” kata Majelis Syuro FPI Misbahul Anam.

Misbahul Anam ketika dihubungi pada Kamis, 18 Desember 2014, menyatakan ucapan Natal memiliki dampak pengakuan terhadap eksistensi agama lain. Sebab, definisi Natal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti hari kelahiran Yesus Kristus. “Jadi, ketika ada orang Islam yang mengucapkan Natal, artinya mereka memberi selamat atas kelahiran Yesus,” kata Anam. (Ketua PBNU: Ucapan ‘Selamat Natal’ Tak Haram)

Berbeda, Buya Syafii menganggap ucapan Natal itu wujud kerukunan hubungan dengan sesama manusia. Buya Syafii berharap agar ucapan “Selamat Natal” tak dihubungkan dengan masalah teologi. “Jangan berpikir, kalau ada yang mengucapkan ‘Selamat Natal’, ia otomatis memiliki teologi sama,” kata Buya Syafii.