Merdeka, Syalom, Salam persahabatan

17 November 2011 2 komentar

Salam kenal sahabat kekasih.

“Effortless change can happen only by three items, those are seed, time, and harvest.  So plant the seed, plant the seed, plant the seed, and wait… and amazingly you will harvest the change.” (By Darwin Pangaribuan, 2015)

Blog ini saya tulis agar kita dapat saling berbagi dan saling mengenal satu sama lain. Blog ini adalah catatan harian aktivitas saya dalam hal menulis (writing), melatih (training) dan mengajar (speaking).

Blog pribad ini khusus untuk kalangan sendiri karena berfokus pada peristiwa kejadian pada masa lalu (past) = creation science, masa sekarang (present) = leadership, dan masa depan (future) = prophecy

Saran dan komentar diemail ke darwinpangaribuan@yahoo.com

Horas, terimakasih,  salam dan doa

Iklan

Marga Pangaribuan dan Siregar mewakili Jong Batak yang ikut Kongres Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Marga Pangaribuan dan Siregar (yaitu Amir Syarifuddin Siregar) mewakili Jong Batak yang ikut Kongres Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

 

Sumber berita:  https://kompas.id/baca/x/politik/2017/10/29/dari-semua-golonganuntuk-satu-indonesia/

 

28 Oktober 1928 di halaman depan Gedung IC, Jl. Kramat 106, Jakarta. Tampak duduk dari kiri ke kanan antara lain (Prof.) Mr. Sunario, (Dr.) Sumarsono, (Dr.) Sapuan Saatrosatomo, (Dr.) Zakar, Antapermana, (Prof. Drs.) Moh. Sigit, (Dr.) Muljotarun, Mardani, Suprodjo, (Dr.) Siwy, (Dr.) Sudjito, (Dr.) Maluhollo. Berdiri dari kiri ke kanan antara lain (Prof. Mr.) Muh. Yamin, (Dr.) Suwondo (Tasikmalaya), (Prof. Dr.) Abu Hanafiah, Amilius, (Dr.) Mursito, (Mr.) Tamzil, (Dr.) Suparto, (Dr.) Malzar, (Dr.) M. Agus, (Mr.) Zainal Abidin, Sugito, (Dr.) H. Moh. Mahjudin, (Dr.) Santoso, Adang Kadarusman, (Dr.) Sulaiman, Siregar, (Prof. Dr.) Sudiono Pusponegoro, (Dr.) Suhardi Hardjolukito, (Dr.) Pangaribuan Siregar dan lain-lain.
ARSIP KOMPAS – REPRO IDAYU FOTO
28-10-1928

 

”Bagi kita, pemuda Indonesia bukanlah masalah keyakinan, bukan masalah benar atau tidak benar. Persatuan Indonesia adalah masalah yang berakar di dalam diri kita masing-masing, suatu masalah perasaan yang membangunkan kesadaran kita yang dalam. Mau atau tidak kita semua tergolong bangsa Indonesia. Mau atau tidak di dalam tubuh kita mengalir darah Indonesia”.

(Mohammad Yamin, Sekretaris Kongres, Petikan Pidato Pembukaan Kongres Pemuda II)

Keindonesiaan yang digagas dalam Kongres Pemuda II tahun 1928 memang menjadi magnet. Di tempat indekos bernama Indonesische Clubhuis, yang pada hari biasa sudah sesak dihuni puluhan mahasiswa itu, pada 28 Oktober 1928 dipadati oleh pemuda yang menghadiri penutupan Kongres Pemuda II.

Pemandu Museum Sumpah Pemuda, Bakti Ari, Kamis (26/10), menerangkan, tempat indekos bernama Indonesische Clubhuis milik Sie Kong Liong di Kramat Raya 106, Jakarta, itu telah menjadi pondokan bagi aktivis Jong Java pada awal 1920-an.

”Sejak tahun 1926, para pemuda Sumatera dan berbagai daerah juga tinggal di sini. Kamar paling belakang diduga kamar kos Mohammad Yamin,” kata Bakti Ari, yang alumnus jurusan sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta, menerangkan ruangan kamar berukuran 3 x 4 meter di bagian paling kanan belakang gedung.

Tidak hanya para mahasiswa kedokteran Stovia yang tinggal di tempat itu. Sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Recht Hoogeschool—kini Kompleks Kementerian Pertahanan RI di Jalan Medan Merdeka Barat—juga bermukim di rumah Sie Kong Liong.

Menelusuri sejarah Sumpah Pemuda dan Kongres Pemuda II yang digelar para pemuda kala itu membuka lembaran sejarah betapa Indonesia dibangun oleh semua dan untuk semua. Daradjadi Gandasuputra, penulis buku Mr Sartono Bapak Parlemen Indonesiaterbitan Penerbit Buku Kompas, menceritakan, untuk mengelabui penguasa Hindia Belanda, pembukaan Kongres Pemuda II dilakukan di Kompleks Gereja Katedral, Jakarta, di ruangan milik Katholieke Jongenlingen Bond atau Perkumpulan Pemuda Katolik, Sabtu, 27 Oktober 1928.

”Ketika banyak peserta menyebut-nyebut kata merdeka, intel Hindia Belanda minta rapat dibubarkan. Mr Sartono sebagai ahli hukum lulusan Leiden menanyakan pada intel tersebut, di mana ada larangan bagi suatu bangsa memerdekakan diri di dalam undang-undang. Akhirnya, intel tersebut meninggalkan para pemuda,” kata Daradjadi.

Kala itu, Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia menjadi Ketua Kongres, dengan Wakil Ketua RM Djoko Marsaid dari Jong Java. Menjabat Sekretaris adalah Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond, dengan Bendahara Amir Sjarifuddin (Jong Batak Bond). Mereka didukung Pembantu I Djohan Mohammad dari Jong Islamieten Bond, Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia) sebagai Pembantu II, Pembantu III yaitu RCL Senduk (Jong Celebes), Pembantu IV Johannes Leimena (Jong Ambon), dan Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi) sebagai Pembantu V.

Daradjadi melanjutkan, agar tidak mengganggu misa di Gereja Katedral hari Minggu, 28 Oktober, para pemuda mencari tempat baru untuk melanjutkan kongres. Mereka berswadaya dan menggunakan gedung Oost Java Bioskop. Banyak peserta tidak kebagian tempat duduk hingga harus berdiri untuk mengikuti sesi pagi Kongres Pemuda II di dalam bioskop.

Wajah Indonesia

Dalam buku panduan 2017 Museum Sumpah Pemuda, ada sekitar 700 nama tercatat sebagai peserta Kongres Pemuda II. Di dalamnya antara lain ada nama-nama tokoh Sunda, yakni Djuanda dan Poeradiredja, nama-nama Jawa-Madura, seperti Katjasungkana, Sartono, atau Sarmidi Mangunsarkoro. Di acara itu juga ada tokoh Bali Tjokorda Gde Raka Sukawati, tokoh Minang M Yamin, tokoh Tapanuli Amir Sjarifudin, hingga nama Minahasa Pantouw. Saat itu juga ada nama Eropa dan Indo Eropa, seperti pendeta van Hoorn, dan pemuda Tionghoa seperti John Lauw Tjoan Hok.

Dengan melihat mereka yang hadir, Kongres Pemuda II tersebut menurut Bakti Ari adalah potret dari wajah Indonesia, yang kemerdekaannya diperjuangkan oleh semua kelompok dan golongan.

Sementara itu, sebagian anak kos di Kramat Raya 106, menurut Ari Bakti, seperti M Yamin, Amir Sjarifudin, Asaat Dt Moeda AK Gani, Aboe Hanifah, Mohammad Tamzil, dan Roesmali, kelak menjadi pejabat penting di Republik Indonesia merdeka.

Berapa saat setelah penutupan kongres, koran Melayu Tionghoa, Sin Po,memuat naskah lagu ”Indonesia Raya” lengkap dengan partitur yang ditampilkan WR Supratman saat penutupan kongres. Salinan dari berita itu kini terpampang di Museum Sumpah Pemuda. Di tempat itu juga ditampilkan replika piringan hitam rekaman pertama Indonesia Raya yang dilakukan Yo Kim Tjan, pemilik Toko Populaire di Pasar Baroe tahun 1927. Rekaman tersebut berulang kali disembunyikan dari aparat kolonial Hindia Belanda setelah direkam di Jalan Gunung Sahari dan digandakan di London, Inggris.

Hilang

Sejarawan, Didi Kwartanada, mengatakan, ada yang menarik dari hilangnya sosok Sie Koh Liong dari narasi sejarah Sumpah Pemuda. Sebagai pemilik indekos Indonesische Clubhuis, ia mengambil risiko dengan mengizinkan rumahnya menjadi tempat pertemuan para pemuda pergerakan. Risiko ini tidak kecil karena saat itu gerakan politik diawasi dengan ketat dan pada 1926 Pemerintah Hindia Belanda baru saja menumpas gerakan komunis.

”Jo Masdani yang ikut Sumpah Pemuda sebagai anggota Jong Celebes pernah mengusulkan tahun 1958 kepada Sekretariat Negara untuk memberikan penghargaan kepada Sie Kong Liong. Namun, tidak diketahui kabarnya hingga kini,” kata Didi.

Menurut Ari Bakti, Sie Kong Liong sebagai pemilik indekos, saat itu berbiasa bertukar pikiran dengan Soekarno, M Yamin, dan tokoh lainnya. Pada zaman itu, bertamu ke tempat indekos tidaklah bebas seperti saat ini, sopan-santun pergaulan dipegang penuh. ”Banyak sekali informasi yang kami kumpulkan dari para pengunjung dan keturunan peserta Kongres Pemuda II yang menyepakati satu Tanah Air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia…,” kata Ari Bakti. (Iwan Santosa)

 

 

 

 

 

7 KEKURANGAN PENGKOTBAH KETIKA BERKOTBAH

7 KEKURANGAN PENGKOTBAH KETIKA BERKOTBAH

 

  1.  Kotbah tanpa persiapan yang matang.  Minimal persiapan kotbah adalah n+2.  Jadi jika kotbah 1 jam, maka minimal persiapan 1 + 2 = 3 jam belajar autodidak dalam iman dengan pertolongan Roh Kudus.
  2.  Kotbah hanya mengulang atau menyalin kotbah kotbah sebelumnya atau kotbah orang lain, tanpa pernah mau berjerih lelah untuk belajar autodidak dengan iman.
  3. Kotbah yang ngelantur kemana kemana, tanpa ada sistematika yang jelas, semua dibahas di atas mimbar
  4. Kotbah yang tidak berpusat kepada Kristus dan atau Alkitab, sekalipun dipersiapkan dengan baik
  5. Kotbah yang bercerita terlampau banyak tentang kesaksian hidup dia sendiri, pelayanannya saja atau prestasi prestasi dia
  6. Kotbah yang mendiskreditkan atau mendowngrade gereja lain, hamba Tuhan lain, jemaat, dan pemerintah.
  7. Kotbah yang bermaksud melucu atau membangkitkan emosi pendengar.

Hati hati dengan kotbahmu

 

 

Kategori:Catatan kotbah

LINK EVOLUSI KREASI

Berikut adalah daftar Link Evolusi kreasi

 

 

DINOSAURUS LINK

Video 8 Etos Keguruan

Etos Guru 8.  Mengajar adalah pelayanan.  Aku mengajar dengan rendah hati dan berkorban

 

Video Etos 8.  https://www.youtube.com/watch?v=-75NjMRidjg 

 

Video 8 Etos Kerja Profesional

Pendahuluan:

ETOS kerja bangsa Singapura by Ir Jarot Wijanarko

https://www.youtube.com/watch?v=f8sF33AEs70

Video 8 ETOS Kerja Profesional

Etos 6.  Kerja adalah seni.  Aku bekerja penuh kualitas dan presisi.

Video Etos 6   http://www.godtube.com/watch/?v=WZ6YDGNX

Etos 7  kerja adalah kehormatan.  Aku bekerja sampai selesai

Video Etos 7.  https://www.youtube.com/watch?v=0fEcumHd7GE

Rapat Perdana Panitia Pespawari Prov lampung 2015

Sesuai dengan SK Gubernur Lampung nomor … tahun 2015, saya ditunjuk sebagai anggota seksi dana.  Sejujurnya, saya tidak happy sebagai panitia apapun, oleh karena saya merasa hal melayani sebagai pantitia banyak menyita waktu dan energi.  Apalagi bagian mencari  dana yang sesungguhnya adalah hal yang saya tidak suka “mengemis” meminta sana sini sejumlah uang dari donatur untuk mendukung tim pesparawi daerah.  Akan tetapi oleh karena Pesparawi adalah membawa nama baik provinsi Lampung dalam sebuah hajatan nasional, maka saya pikir boleh juga saya melayani sebagai anggota panita dana pesparawi 2015.

 

Rapat perdana panitia pendukung pesparawi diadakan Minggu 15 Maret 2015 di GKSBS.  Beberapa isi penting yang berhasil diangkat  dalam rapat  perdana ini adalah sbb:

1.  Panitia 2015 tidak mempunyai laporan keuangan dari panitia lama 2011.  Panitia mengakui bahwa kepanitiaan pesparawi provinsi Lampung yang dulu sungguh carut marut tidak jelas pertanggungjawabannya, tidak ada laporan tertulis sebagai pegangan awal panitia baru.

2.  Untuk meminimalisir potensi kehilangan dana donatur, saya usulkan beberapa hal, yaitu (1) dalam kop surat dicantumkan nama dan rekening panitia pesparawi.  (2) sesudah membuat list daftar potensial donatur, agar panitia yang terlebih dahulu menelpon donatur (opening) dan sesudah panitia menerima dana dari pembawa proposal agar kemudian panitia menelpon kembali donatur mengonfirmasi bahwa uang sudah diterima (closing).  Dengan cara demikian, potensi dana donatur “tercecer” akan kecil.

3.  Jangan sampai panitia yang pontang panting mengeluarkan energi dan waktu yang banyak sementara ada oknum oknum yang justru mengambil keuntungan dari kepanitiaan pesparawi ini.

 

Demikan beberapa hasil rapat perdana pesparawi 2015.